Bukankah Ketika Gagal, Kita Tahu Apa Kelemahan Kita?

Kali ini aku rasa teman-teman psikolog akan lebih paham untuk memberikan gambaran tentang pentingnya menyadari kesehatan mental. Aku akan fokus pada pembahasan "GAGAL" menurut perspektif ku, tapi aku harap teman-teman yang membaca ini mempunyai perspektif positif mengenai kegagalan versi kamu sendiri. 

Kata "gagal" memang tajam, bahkan bisa menusuk pikiran dan membayangi akal sehat kita. Normal rasanya jika kata "gagal" membuat semangat kita jadi runtuh. Namun pertanyaannya, mau sampai kapan kita meratapinya? Bukankah ketika kita gagal, kita tahu apa kelemahan kita? Apakah penyebab kegagalan itu? Kenapa tidak menjadikannya amunisi untuk mengenal diri sendiri dan bermain dalam kegagalan itu?. 

Lihatlah diri kita hari ini, Apa yang sudah kita capai sekarang? Banyak, bukan? Lalu, Kenapa ragu?

Kita pemegang hidup kita kita sendiri, tidak ada yang berhak mendikte dirimu sendiri. Kita mempunyai kuasa untuk menentukan mana yang layak dan mana yang tidak untuk di terima oleh diri kita sendiri. Pastinya tidak ada manusia yang memiliki imunitas terhadap kegagalan. Meski demikian, kegagalan bukan hantu yang perlu di takuti. Dengan perspektif yang benar, ia justru bisa membawa kita untuk bergerak maju. 

Seringkali ketika setelah mengalami kegagalan kita jadi bisa melihat sesuatu secara holistik, dari kacamata yang lebih besar, kita jadi lebih "pintar" dan tahu strategi apa yang harus kita ambil di masa yang akan datang. Gagal itu hal wajar, yang indah adalah ketika kamu mampu menjadikan kegagalan itu sebagai alarm untuk terus maju. Sebab, berhenti pada sebuah kesalahan masa lalu tidak akan membuat siapapun jadi maju.

Entah mengapa kita suka sekali menyakiti diri dengan pikiran bahwa kita tidak mampu melakukan sesuatu, bahwa kita telah gagal hingga sulit kembali berdiri. Kita lupa betapa banyak kesempatan dan waktu yang bisa digunakan untuk mencoba lagi, dan semua itu bisa dimulai dengan mengubah pemikiran tentang kegagalan.

Terakhir untuk kamu dari aku, gagal adalah fase yang memang akan membuat kita berpikir dunia akan berakhir untuk kita. Tidak apa-apa jika kamu bersedih, jangan takut untuk menangis. Itu perasaan yang valid. Kita manusia tidak ditakdirkan hanya untuk bahagia kok. Tapi jangan berlama-lama ya, bangun, ambil buku dan tuliskan apa rencanamu kedepannya. Dengan menulis membantu mu menemukan jalan untuk kembali pulang. Tenang saja semua akan baik-baik saja. 

"Tidak apa menjadi tidak sempurna, tidak apa untuk menjadi gagal, beristirahat sejenak lalu arahkan diri lagi pada pertumbuhan". 

Salam hangat teman. 

Komentar

Postingan Populer